tin__tun

...these words comes from heart...

artikel ini saya dapat dari salah satu website,,, saya lagi iseng aja nyari mengenai kisah cinta. eh ketemu artikel ini yang judulnya KETIKA ORANG TUA TIDAK MERESTUI CINTA KITA..
hehhe.. sepertinya seru kalo saya masukkan ke blog ku.. jadi lah saat ini [menjelang jam2 pulang kantor] ku posting dulu artikel ini..

Jatuh cinta dan memiliki seorang pacar memang menyenangkan dan bisa membuat hidup kita lebih indah dan tentunya lebih bersemangat lagi untuk menjalani hari demi hari demi. Tapi tidak semua kisah cinta itu berjalan mulus, selalu ada saja yang menghalangi atau bahkan membuat kisah cinta kita jadi lebih sulit untuk dijalani.
Dan mungkin yang paling sering terjadi adalah ketika orang tua tidak setuju atas hubungan cinta kita? Orang tua kita tidak mau menerima pilihan hati kita dan membenci orang yang jadi pacar kita.
Bila anda pernah mengalami seperti hal seperti ini, dimana hubungan cinta kita tidak mendapat restu dari orang tua, jangan kecil hati dulu dan jangan terburu-buru mengambil langkah yang bisa jadi, justru akan merugikan kehidupan kita.
Ketika orang tua tidak merestui hubungan kita, ada baiknya anda melakukan lagi cek dan rechek atas permasalahan yang sedang dihadapi, dan anda harus siap melihat dan menerima sisi baik maupun sisi buruk dari masalah ini.

Cek Motivasi Hubungan Cinta ini
Yang pertama kali harus kita lakukan adalah mengetahui dulu motivasi apa yang menyebabkan kita memilih dia menjadi pacar kita? Apa tujuan dari hubungan yang kita jalin. Apakah tujuan kita memilih dia itu hanya untuk sekedar gila-gilaan, biar lebih dipandang sebagai ce/co gaul, atau mungkin ada motivasi lain yang lebih tinggi, misal karena kita menginginkan dia jadi istri/suami kita? Dengan mengetahui motivasi sebenarnya dari sebuah hubungan, kita bakal lebih mengetahui apakah kita emang  benar-benar cinta sama dia? atau justru cinta yang kita rasakan ini cuma sekedar perasaan kagum sesaat saja? Atau malah yang parah lagi bila kita memilih dia, cuma ingin teman-teman kita memandang kita hebat karena bisa mendapatkan dia, yang notabene ce/co idaman?
Nah, bila kita telah mengetahui apa sebenarnya motivasi dari hubungan cinta kita, dijamin kita bakal lebih mudah untuk menghadapi ketidaksetujuan dari orang tua kita.

Apakah ini Benar-Benar Cinta?
Sekali lagi, tanya pada diri kita sendiri, apakah yang kita rasakan ini adalah benar-benar cinta? Apakah emang kita benar-benar sayang sama dia? Saat kita jatuh cinta pada seseorang, kita akan selalu memandang semua hal itu mungkin dan bisa dilakukan. Dengan kekuatan cinta, kita bisa lebih bersemangat, apa yang tadinya terasa tidak mungkin menjadi mungkin.
Tapi ketika tiba-tiba orang tua tidak setuju dengan hubungan kita, maka akan dengan mudahnya kita menyalahkan mereka, dan menganggap mereka tidak mengerti dengan perasaan yang kita alami.

Apa Motivasi dari ketidaksetujuan Orang Tua
Langkah berikutnya adalah mengetahui apa motivasi dibalik ketidaksetujuan orang tua atas  hubungan cinta kita. Cari tahu latar belakang dari kehidupan orang tua kita dan kemudian kita bandingkan dengan latar belakang dari pacar kita, karena biasanya perbedaan latar belakang seringkali menjadi penyebab utama dari ketidaksetujuan orang tua. Ada banyak alasan yang bisa menyebabkan orang tua tidak merestui hubungan kita, dan itu semua harus kita cari tahu apa motivasi dari alasan-alasan tersebut.

Jika Orang Tua Kita Ternyata Salah
Orang tua juga manusia, tidak selamanya mereka selalu benar. Bila ternyata ketidaksetujuan mereka lebih dilatar belakangi karena masalah racis (perbedaan suku, warna kulit dst), kelas sosial, atau bahkan perbedaan pekerjaan (misal dia kurang mapan dibandingkan dengan kita). Bila itu semua yang menjadi alasan, maka sudah selayaknya kita berjuang mempertahankan hubungan cinta kita dan tidak begitu saja menyerah dan setuju dengan ketidaksetujuan orang tua kita.
Orang tua mungkin merasa khawatir bila ternyata hubungan cinta kita justru akan membuat kita sengsara, atau membuat kita dikucilkan dari pergaulan masyarakat. Dan terkadang orang tua mempergunakan “aturan” atau “tata sosial” zaman dulu, yang terkadang kurang relevan dengan keadaan zaman sekarang.
Bila ternyata semua ini yang menjadi penyebab ketidaksetujuan orang tua kita, maka sudah sewajarnya kita bisa memberikan argumen yang tepat pada mereka untuk mempertahankan hubungan cinta kita. Bagaimanapun ketidaksetujuan yang disebabkan karena masalah rasis, kelas sosial sangat tidak bisa dibenarkan, meskipun itu semua datang dari orang tua kita sendiri.

Jika Orang Tua Kita Ternyata Benar
Tidak ada yang lebih mengenal kita, selain orang tua kita. Bahkan orang tua lebih tahu dan mengerti pada diri kita dibandingkan kita sendiri. Dan mungkin saja, karena kita sedang dibutakan oleh yang namanya cinta, hingga apa yang dilihat sebagai sisi buruk oleh orang tua kita justru kita tidak bisa menyadarinya. Yang kita lihat hanya sisi baik dan pandangan bahwa cinta itu selalu indah.
Kita harus ingat, orang tua sangat menyayangi kita dan mereka menginginkan supaya kita bisa bahagia dalam hidup ini. Jadi ketika mereka melihat sesuatu yang tidak beres dan merugikan, dalam hubungan cinta kita, tentu saja mereka bakal dengan tegas menolak dan tidak merestui hubungan kita.
Jika orang kita ternyata pernah mendengar bahkan tahu bahwa pacar kita tersebut punya perilaku yang buruk, dan mereka mengkhawatirkan kita bakal dilukai oleh pacar kita, tentu ada baiknya bila kita mencoba mendengarkan mereka, karena mungkin saja mereka ada benarnya.
Jika kita mulai berlaku liar, dan hidup kita mulai kacau, (misal kita mulai mempergunakan obat-obatan terlarang, minuman keras) karena pengaruh pacar kita, orang tua sudah pasti sangat tidak setuju dengan hubungan kita. Dan orang tua juga bakal tidak merestui, bila ternyata selama menjalin hubungan cinta, prestasi kuliah kita mulai menurun, atau kita mulai kehilangan sahabat dan teman kita. Sudah waktunya kita mendengarkan orang tua dan menghentikan hubungan cinta kita. Bagaimanapun, sebuah hubungan cinta yang terlalu banyak mengorbankan dan merugikan kehidupan pribadi kita, sudah merupakan sesuatu yang tidak menyehatkan bagi kelangsungan hidup kita.

Menemukan Jalan Keluar
Seperti dikatakan di awal tadi, cinta itu indah dan bisa membuat hidup lebih bersemangat dan lebih baik. Bila ternyata cinta yang kita jalani sekarang ini memang benar-benar membuat hidup kita lebih baik, lebih nyaman, dan pacar kita benar-benar sayang sama kita dan memberikan efek positif pada kehidupan kita, sudah sewajarnya kita mempertahankan hubungan cinta ini, meskipun orang tua tidak setuju.
Tapi ketika hubungan cinta dirasakan mulai “membahayakan” kehidupan pribadi kita, ada baiknya kita berpikir ulang, apakah perlu kita mempertahankan cinta ini? Perlu diingat baik-baik, kita tidak harus kehilangan hidup kita hanya karena kita jatuh cinta dan membina sebuah hubungan. Keluarga, teman dan kuliah atau sekolah kita, masih sangat penting bagi kehidupan kita. Membina sebuah hubungan cinta, tidak berarti bahwa kita mesti kehilangan itu semua. Bila kita mulai merasakan bahwa kita mulai kehilangan hidup kita, sudah waktunya kita berpikir untuk mengakhiri hubungan cinta ini.

Orang tua selalu mengharapkan yang terbaik buat kita, hadapilah ketidaksetujuan orang tua dengan kepala dingin dan sikap yang kooperatif. Boleh jadi mereka tidak suka dengan pacar kita, tapi suatu hari nanti mereka pasti akan bisa menerima hubungan cinta kita, bila kita mampu membuktikan bahwa apa yang kita lakukan bisa  membuat kehidupan kita lebih baik dan lebih indah untuk dijalani.

Selamat Jatuh Cinta!

Reaksi: 

Sepi Berbuah Rindu

Posted by thiena On 02.34 0 komentar

malam sunyi sendiri..
aih pasti itu yang kan kualami malam ini
tak apa lah..
toh sebelum ini aku pun selalu merasakannya
ku mungkin hanya akan sulit untuk adaptasi
kembali ke masa lalu ku

yang hanya ada aku, kamarku dan juga sepi
ya sepi tak pernah berhenti menyertaiku

sepi membawa rindu
jelas itu pasti
tapi apa lagi yang dapat kulakukan

kesatria ku telah menyerah
aku pun akan begitu
tak ingin tambah bebannya lagi
cukup lah sepi ini ku resapi, mencoba ku nikmati

Reaksi: 

"i'll by myself.... dont wanna be all by myself... anymore"

pelantun lagu ini menyanyikan lagu ini dengan power yang luar biasa. seakan-akan benar-benar menggambarkan betapa tak inginnya dia sendiri lagi di dunia ini.
kurasa siapa pun tak ingin sendirian. siapa pun di dunia ini pasti butuh orang lain. tanpa itu, rasa sepi pasti kan menghantui.

aku pun tak pernah mau sendiri
.hanya saja kenyataannya aku sering sendiri
aku sering sepi

hey.. aku jadi teringat bait puisi dari film indonesia paling fenomenal kala itu. Ada Apa Dengan Cinta.
"
Aku lari ke hutan, kemudian menyanyiku
 Aku lari ke pantai, kemudian teriakku
 Sepi... Sepi dan sendiri aku benci.
 Aku ingin bingar. Aku mau di pasar.
 
 Bosan aku dengan penat,
 dan enyah saja kau, pekat!
 
 Seperti berjelaga jika aku sendiri
 Pecahkan saja gelasnya biar ramai
 Biar mengaduh sampai gaduh
 
 Ahh.. ada malaikat menyulam jaring laba-laba belang
 di tembok keraton putih
 Kenapa tak goyangkan saja loncengnya?
 Biar terderah,
 atau... aku harus lari ke hutan belok ke pantai?"

sepi, sepi dan sendiri aku benci. ya, aku benci sepi dan sendiri.

tapi hingga saat ini sepi lah yang selalu setia menemaniku. ku usir dariku. sepi akan kembali.

semalam...
salah satu orang yang menjadi tumpuan ku menghalau sepi. telah menyerah..
tak sanggup menemaniku menikmati kesepian.
tak pernah menyalahkannya karena tak sanggup
sesungguhnya
aku pun tak sanggup akan sepi ini

kutahu sepiku selalu membebaninya
dan semalam
kuputuskan tuk tak menenggelamkannya lebih jauh lagi
ke rawa kelam kesepianku..

kuhanya ingin dia bahagia

dulu sempat berjanji tuk lawan sepi ini.
hanya saja..
dia menyerah..
dan aku pun tak ingin menahannya

hey kau kesatria penghalau sepi malam-malamku..
lanjutkan lah hidupmu

bahagia lah
karena mentari mulai muncul malu-malu hari ini
ku takkan lagi bebani mu dengan sepi ku

aku bisa hadapi sepi ini
karena aku tlah terbiasa
ku punya cara sendiri tuk hadapinya

bahagia lah kesatria..

sepiku.. hanya untuk diriku sendiri sekarang..
tak kan kubagi...

Reaksi: 

Mamaku Hobi Merepet

Posted by thiena On 21.36 0 komentar

“Ade, cepat bangun… Segera bukan jendela dan kerjakan pekerjaan rumah…
Tidak baik menunda-nunda!”
“Hey cepat-cepat buka jendela lalu bekerja…”
“Ade… kalo kerja itu jangan setengah-setengah.. kalau mau dibereskan.. sekalian dibereskan…”
“bla..bla..bla..lainnya lagiii…..
Repetan semacam ini lah yang kuhadapi setiap hari. Kata-kata pamungkas mama kalau sudah melihatku sedikit saja tidak melakukan apa-apa (padahal menurutku aku sudah melakukan banyak pekerjaan rumah). Kadang kesal menyeruak di batinku jika mama merepet tidak jelas, ingin sekali rasanya membalas kata-kata mama. Aih, tapi alih-alih membalas kata-kata mama. Untaian kata-kata balasan yang sudah tersusun rapi di kepalaku itu pasti jadinya kutelan lagi. Atau mungkin masi tersimpan di peti baja di sudut otakku.
Aku mungkin adalah anak mama yang paling sering dan paling lama kena repet (baca:omelan) mama. Ya bagaimana tidak, kakak pertama ku SMP hidup terpisah dari kami, SMA ikut kami di Padang,tapi selepas SMA langsung masuk AKMIL Darat. Kalau kuhitung-hitung hanya 15 tahun saja kakak pertama ku merasakan repet mama yang pamungkas itu.
Kalau kakak ku yang kedua, waktu SMP sempat tidak ikut aku, papa n mama tapi SMA kakakku ikut kami. Hanya saja masuk kuliah, baru mau masuk semester II kakak ku yang memang berparas cantik itu di pinang oleh seorang Kapten, yang kemudian menjadi kakak ipar idolaku. Paling-paling hanya 17 tahun dirasakannya repetan mama.
Dan aku, dari keluar rahim hingga sekarang umurku masuk 24 tahun hanya selama 4 tahun aku jauh dari orangtua itu pun untuk keperluan pendidikan ku di universitas. Paling tidak 20 tahun aku merasakan kata-kata pamungkas mama yang kadang menjengkelkan tapi bikin kangen hehe.. still love you full mama.. :-*
Heyho.. Postinganku kali ini bukan mau mengeluh atas repetan dan kata-kata pamungkas mama ku. Dulu mungkin aku bisa kesal tapi makin dewasa aku makin bisa memaknai bahwa dibalik semua repetan mama itu. Ada niat baik dan memang untuk kebaikan dan kesuksesan ku di masa depan. LOVE YOU MAMA…
Nah ini dia penjelasanku mengenai repetan mama, pamali-pamali yang selalu diingatkannya buat anak bungsunya ini.
Kata-kata pamungkas yang selalu keluar dari bibir mamaku tercinta. Kadang rasanya sebal bila mendapatkan omelan yang sama setiap hari. Tapi, mungkin memang aku yang masih harus diingatkan selalu untuk tidak menunda berbagai pekerjaanku.
Kalau kata orang-orang dulu, “Segera bergerak sebelum rejeki mu di patok ayam”. Mungkin itu yang mama maksud agar aku selalu berusaha bangun lebih cepat dari mentari.
Mungkin ada yang menganggap itu hanyalah bualan atau pamali yang dibuat-buat oleh orang tua dulu agar kita anak-anaknya segera bangun dan membantu pekerjaan mereka. Ohh.. jangan langsung berpikiran negatif begitu donk.
Kalau bagiku, segala omelan dan juga pamali-pamali yang diberikan oleh orang tua dulu itu bisa kita dalami dan logika kan, bila anda yang menganggap pamali itu tidak logis. Aku pernah dengar kalimat motivasi yang mengatakan “Kesempatan mungkin tidak datang 2 kali”. So, bukan kah bila kita tidak buru-buru bekerja untuk menggapai kesempatan itu kemungkinan besar kita akan kehilangan kesempatan itu sendiri.
Ada juga kalimat motivasi yang mengatakan bahwa, “Keep Move On, tetaplah bergerak”. Seperti ucapan orangtua dulu, cepat bangun dan bergerak, bekerja. Jadi, percuma saja jika kita hanya bangun atau tersadar bahwa kita harus sukses bila tak berbuat apa-apa. Untuk menggapai sukses itu, ya harus bergerak, ya harus bekerja. Itu HARUS..!
“Sukses butuh kecekatan kerja, jangan sampai kehilangan kesempatan”. Sekali lagi, bukti bahwa pamali itu bukan hanya untuk menyusahkan dan membuat repot. Jelas saja, jika kita tak cekatan menggapai kesempatan.
Dari segala panjang kali lebar penjelasan saya mengenai omelan dan pamali orangtua ku tadi satu hal yang paling tegas adalah. “Sukses butuh kecekatan kerja, jangan sampai kehilangan kesempatan untuk meraih sukses , don’t waste your time !”
Sekali lagi.. AKU SAYANG MAMA.. hehehe.. :)

tulisan ini juga terbit di http://sosbud.kompasiana.com/2010/05/11/mama-ku-hobi-merepet-ngomel/

Reaksi: