tin__tun

...these words comes from heart...

Teganya Dikau Pak Ketua DPR

Posted by thiena On 04.05 0 komentar

Siang ini saya lumayan kaget membaca bahwa Ketua DPR yang terhormat di protes banyak orang. Bukan cuma kaget sih sebenarnya, Kesel bin Mangkel rasanya denger Pak Marzuki Ali tega ngomong gitu.
Loh? kok bisa?
Ternyata emang dasar pak Marzuki Ali emang nyari gara-gara lah istilahnya.
Kok bisa santai-santainya ngasih komentar ringan seperti itu. Ke media lagi. Saya jadi kepikiran, jangan-jangan bapak ini mau juga kaya' artis-artis. Cari sensasi biar terkenal.
Kalo cuma mau terkenal aja sih pak. Mending Lipsing centil ajaa.. kali aja bisa lebih heboh daripada Keong Racun-nya Sinta and Jojo.
Daripada bapak ngasih komen yang bikin panas kuping dan sangat ga enak di hati.
Komen bapak santai banget ya. “Mentawai kan jauh. Itu konsekuensi kita tinggal di pulaulah,” kata Marzuki di Gedung DPR seperti dikutip salah satu media online.
Ckckck..
Saya jadi ingat salah satu adegan film Ada Apa Dengan Cinta (AADC)
Saat Cinta bingung sama sikap tidak bersahabat yang ditampakkan Rangga kepada dia dan teman-temannya.
"Terus kenapa? Salah Gue? Salah temen-temen gue?"
Saya posisikan pak Marzuki Ali sebagai Rangga. Walau tidak seganteng Nicholas Saputra. Tapi kesannya sama gitu. Pak DPR yang terhormat tidak menunjukkan rasa empatinya kepada oranglain.
Kalau saja warga Mentawai bisa bilang..
"Gue kena Tsunami.. Terus kenapa?? Salah gue? Salah temen-temen gue?"
Tuh pak..
Bisa jawab ga? Enak aja bapak bilang itu salah satu konsekuensi tinggal di pulau. Hello pak... emang bapak bukan tinggal di pulau?? heh?? (baca dengan gaya anak gaul)

Sekian dan terima kasih..
Saya hanya mau ngungkapin gimana keselnya saya denger bapak yang seharusnya mewakili rakyat. Malah menyalahkan rakyat.

*kalau ada yang tersinggung sebelumnya saya minta maaf

^salam^

Reaksi: 


 Senin 25 Oktober 2010, pukul 21.42 WIB, sebuah gempa berkekuatan 7,2 skala Richter terjadi di barat daya Pulau Pagai, Mentawai, Sumatera Barat. Sebuah tsunami pun lahir, menghantam kawasan pantai barat gugusan kepulauan di kabupaten terluas di Sumatera Barat itu.

Kurang 24 jam, pada Selasa 26 Oktober 2010 pukul 17.02 WIB, Gunung Merapi mengeluarkan erupsi pertama setelah dari sebulan sebelumnya dinyatakan bahaya. Erupsi-erupsi menghasilkan awan panas yang kemudian diketahui menewaskan 29 orang termasuk Juru Kunci Merapi, Mbah Maridjan.

Apakah dua peristiwa alam ini terkait satu sama lain?

Pakar Geodesi dari Institut Teknologi Bandung, Hasanuddin Z Abidin, menyatakan kedua peristiwa ini berjauhan lokasinya. Menurutnya, terlalu spekulatif apabila menyimpulkan kedua bencana itu ada keterkaitan satu sama lain.

"Terlalu jauh. Saya rasa nggak berhubunganlah," kata Hassanudin dalam perbincangan telepon dengan VIVAnews, Rabu 27 Oktober 2010.

"Mentawai kita ketahui memang dari dulu sering terjadi gempa, sementara aktifitas Merapi itu pun memang ada siklusnya. Lagipula gunung-gunung yang lebih dekat dengan Mentawai seperti misalnya yang ada di Padang saja, itu tidak menunjukkan reaksi apa-apa terkait gempa Mentawai. Jadi menurut saya, terlalu spekulatif kalau menghubungkannya. Mungkin hanya kebetulan saja waktunya sangat berdekatan," kata Hasanuddin.

Ketika ditanya apakah akan ada gempa yang lebih besar lagi di Mentawai setelah gempa dahsyat yang terjadi 25-26 Oktober kemarin, Hasanuddin menegaskan hal itu bisa saja terjadi. "Itu biasa, suatu tempat kalau sudah pernah terjadi gempa pasti nanti akan terjadi lagi gempa di tempat itu. Cuma saja kapan waktunya ini yang susah diprediksi," katanya.

Variasi waktu gempa susulan itu berbeda-beda, tambah Hasanuddin. Bisa dalam hitungan jam, hari, bulan, bahkan ada yang tahunan.

"Biasanya kalau gempa yang besar, itu akan butuh waktu lama untuk terjadi gempa lagi. Mentawai kan kemarin kekuatannya 7,2 skala richter, termasuk besar, nah ini akan akan butuh waktu lama untuk terjadi gempa besar lagi. Makanya menurut saya tidak dalam waktu dekat ini akan terjadi gempa besar lagi, karena dia mesti menyimpan energi dalam waktu lama," kata Hasanuddin.
Pesisir Pantai Pagai, Kepulauan Mentawai, yang dilanda tsunami
Kawasan terkena tsunami di Mentawai

Penekanan Mitigasi

Hasanuddin menyatakan, yang paling penting dalam penanganan bencana ini adalah mitigasi. "Pemerintah seharusnya lebih care (peduli) dengan riset-riset kebencanaan yang di hulu," katanya.

Riset-riset hulu yang dimaksud itu adalah yang mengenai peringatan dini (early warning), studi potensi bencana, atau identifikasi bencana. "Kita sangat lemah dalam soal early warning. Menurut saya, pemerintah sangat kurang perhatian dalam mitigasi bencana. Saya sering gregetan," katanya.

Mestinya kalau pemerintah serius menaruh perhatian dalam mitigasi bencana, studi atau riset kebencanaan yang ada bisa bermanfaat untuk memperkirakan kapan terjadi bencana dan mengantisipasinya sehingga sedapat mungkin tidak ada kerugian dan korban yang besar.

Hasanuddin meminta pemerintah agar memasukkan juga studi kebencanaan sebagai prioritas perhatian. "Memang studi kebencanaan tidak menghasilkan uang, tetapi itu kan penting, karena bencana ini adalah bahaya laten dan dampaknya juga costly (biaya tinggi). Indonesia ini masuk daerah yang sering terjadi gempa. Jangan selalu repot bertindak setelah kejadian," katanya.

Reaksi: 

Mbah Maridjan... SAE...!!!!

Posted by thiena On 02.10 0 komentar

Pemakaman keluarga Srumen, Glagaharjo, Cangkringan di kaki Gunung Merapi yang biasanya senyap, hari ini, Kamis 28 Oktober 2010 ramai.

Ribuan orang datang untuk melepas jenazah Mbah Maridjan, juru kunci Gunung Merapi.

Setelah sampai ke area pemakaman, jenazah Mbah Maridjan harus menunggu 45 menit, menunggu para pelayat selesai membacakan tahlil di sekitar liang lahatnya.

Pada pukul 12.00 WIB, jenazah dibawa ke liang lahat. Sejumlah tokoh menghadiri pemakaman seperti Ketua Umum Partai Golkar, Aburizal Bakrie, Direktur Utama PT Sido Muncul Irwan Hidayat, aktor Donny Kesuma, dan Bupati Sleman Bupati Sleman Sri Purnomo.

Sementara pihak keraton diwakili putri Sultan Hamengkubuwono X, GKR Pembayun dan adik Sultan, GBPH Prabu Kusumo.

Saat jenazah hendak dimasukkan ke lubang kubur, kiai menanyakan pada para pelayat, pendapat mereka tentang Mbah Maridjan semasa hidup. 

"Mbah Maridjan sae nopo awon para rawuh." [Mbah Maridjan, baik apa tidak].

Dijawab keras-keras oleh ribuan pelayat, "Sae!".

Kemudian, jenazah dimasukkan ke liang, seluruh pelayat mengumandangkan 'La illahaillallah' berulang kali.

Tak hanya jadi perhatian media dalam negeri. Pemakaman Mbah Maridjan juga diliput sejumlah media asing seperti CNN dan Reuters -- bukti bahwa nama Mbah Maridjan mendunia.

Pria bernama  Mas Penewu Suraksohargo ini adalah juru kunci Merapi sejak tahun 1982.

Nama Mbah Maridjan naik daun saat Merapi meletus pada 2006 lalu. Saat itu, ia menolak untuk mengungsi meski dibujuk langsung oleh Sultan Hamengku Buwono X.

Sikap Mbah Maridjan menuai kecaman sekaligus pujian.  Karena keberaniannya dan setia pada tugasnya merawat Merapi.

Letusan Merapi tahun Oktober 2010 ini jadi tugas terakhir bagi sang kuncen.

Dia ikut tewas ketika kampung asrinya, Kinahrejo diterjang awan panas Merapi 'wedhus gembel'. 

Pada Rabu pagi 27 Oktober 2010 pagi, pria yang mengabdi di Merapi sejak 1982 itu ditemukan  tewas di rumahnya. Dalam posisi bersujud.

Meski ada yang mengatakan ia gagal mengelakkan bencana, Mbah Maridjan adalah gambaran seorang yang setia dan amanah mengembang tugas hingga ajal. The last man standing on Merapi.
(Laporan: Fajar Sodiq| Yogyakarta, 

Reaksi: 

Racun Penumbuh Cinta

Posted by thiena On 01.56 0 komentar

Dikisahkan, seorang wanita baru menikah dengan pria yang dicintai dan tinggal serumah dengan ibu mertuanya. Tidak lama setelah mereka berumah tangga, sangat terasa banyak ketidak cocokan di antara menantu dan sang mertua. Hampir setiap hari terdengar kritikan dan omelan dari ibu mertua. Percekcokan pun seringkali terjadi. Apalagi sang suami tidak mampu berbuat banyak atas sikap ibunya.

Saat sang menantu merasa tidak tahan lagi dengan temperamen buruk dan dominasi ibu mertuanya, dia pun akhirnya memutuskan untuk melakukan sesuatu demi melampiaskan sakit hati dan kebenciannya.

Pergilah si menantu menemui teman baik ayahnya, seorang penjual obat ramuan tradisional. Wanita itu menceritakan kisah sedih dan sakit hatinya dan memohon agar dapat diberikan bubuk beracun untuk membunuh ibu mertuanya.

Setelah berpikir sejenak, dengan senyumnya yang bijak, si paman menyatakan kesanggupannya untuk membantu, tetapi dengan syarat yang harus dipatuhi si menantu. Sambil memberi sekantong bubuk ramuan yang dibuatnya, sang paman berpesan, "Nak, untuk menyingkirkan mertuamu, jangan memberi racun yang bereaksi cepat, agar orang-orang tidak akan curiga. Karena itu, saya memberimu ramuan yang secara perlahan akan meracuni ibu mertuamu. Setiap hari campurkan sedikit ramuan ini ke dalam masakan kesukaan ibu mertuamu dari hasil masakanmu sendiri. Kamu harus bersikap baik, menghormati, dan tidak berdebat dengannya. Perlakukan dia layaknya sebagai ibumu sendiri, agar saat ibu mertuamu meninggal nanti, orang lain tidak akan menaruh curiga kepada kamu."

Dengan perasaan lega dan senang, diturutinya semua petunjuk sang paman penjual obat. Dilayaninya sang ibu mertua dengan sangat baik dan penuh perhatian! Setiap hari, ia menyuguhkan aneka makanan kesukaan si ibu mertua.

Tidak terasa, empat bulan telah berlalu dan terjadilah perubahan yang sangat besar. Dari hari ke hari, melihat sang menantu yang bersikap penuh perhatian kepadanya, ibu mertua pun merasa tersentuh. Ia berbalik mulai menyayangi si menantu bahkan memperlakukannya seperti anaknya sendiri. Dia juga memberitahu teman-teman dan kenalannya bahwa menantunya adalah seorang penuh kasih dan menyayanginya.

Menyadari perubahan positif ini, sang menantu cepat-cepat datang lagi menemui sang paman penjual obat, "Tolong berikan kepada saya obat pencegah racun pembunuh ibu mertua saya. Setelah saya patuhi nasihat paman, ibu mertua saya berubah sangat baik dan menyayangi saya seperti anaknya sendiri. Tolong paman, saya tidak ingin dia meninggal karena racun yang telah saya berikan".

Sang paman tersenyum puas dan berkata "Anakku, kamu tidak perlu khawatir. Bubuk yang saya berikan dulu bukanlah racun, tetapi ramuan untuk meningkatkan kesehatan. Racun yang sebenarnya ada di dalam pikiran dan sikapmu terhadap ibu mertua. Sekarang semua racun itu telah punah oleh kasih dan perhatian yang kamu berikan padanya."

Reaksi: 

Urung ikut bersama rombongan yang menjemput, Mbah Maridjan memilih menuju masjid di dekat rumahnya untuk shalat maghrib. Ketika Mbah Maridjan berjalan menuju masjid, seorang anggota tim SAR meminta semua orang di halaman rumah untuk meninggalkan lokasi.
"Rekomendasi BPPTK, kita harus kosongkan tempat ini dan segera turun," kata anggota tim SAR itu.
Suara bergemuruh susul-menyusul terdengar dari lereng Merapi. Saya (Musyafik) tidak tahu persis apa yang terjadi waktu itu. Kabut sudah turun, jarak pandang mulai terbatas. Bahkan, Bramasto, teman saya, bilang turun hujan pasir.
Saat bersamaan, ketika Mbah Maridjan belum sampai ke pintu masjid, sirine bahaya peringatan letusan pun meraung-raung. Saya terkesiap dan kepanikan mulai muncul. Namun, naluri jurnalis muncul, saya bilang ke Bram, kita harus bertahan lima menit untuk melihat perkembangan terjadi.
Bahkan saya berniat ikut jemaah shalat Magrib di masjid. Saya sempat lihat ada dua perempuan, keluar dari mobil, salah seorangnya berjilbab berlari kecil menyusul Mbah Maridjan ke arah masjid. Tapi karena Bram sudah panik, dia memaksa saya segera turun.
Rombongan PLN sudah meninggalkan halaman rumah, termasuk mobil tim SAR dan sepeda motor anggota SAR. Sementara itu, dua pendaki, Itong dan temannya, memindahkan sepeda motor, bergeser ke sebuah rumah di sebelah bawah rumah Mbah Mardijan.
Saya sempat mengikuti dia dan berniat untuk ikut berlindung di tempat persembunyian kedua orang itu sebab dia sempat cerita sebelumnya, waktu letusan 2006, dia menyelamatkan diri di tempat itu. Namun, sebelum kami parkir motor, Bram lagi-lagi memaksa turun secepatnya.
Wajah dia terlihat sangat ketakutan. Hujan abu tebal waktu itu sudah turun menderas. Itu bisa kami rasakan saat motor melaju, mata saya kemasukan debu dan sangat perih. Saya waktu itu mengenakan helm yang berkaca depan.
Semula, Bram berusaha memacu motor. Tapi saya ingatkan pelan saja karena jarak pandang terbatas dan berbahaya. Setelah itu, saya tidak pernah lagi menengok ke arah rumah Mbah Maridjan. Entah apa yang terjadi di sana. Raungan sirine menjadi tanda perpisahan kami dengan Si Mbah.

Reaksi: