tin__tun

...these words comes from heart...

Urung ikut bersama rombongan yang menjemput, Mbah Maridjan memilih menuju masjid di dekat rumahnya untuk shalat maghrib. Ketika Mbah Maridjan berjalan menuju masjid, seorang anggota tim SAR meminta semua orang di halaman rumah untuk meninggalkan lokasi.
"Rekomendasi BPPTK, kita harus kosongkan tempat ini dan segera turun," kata anggota tim SAR itu.
Suara bergemuruh susul-menyusul terdengar dari lereng Merapi. Saya (Musyafik) tidak tahu persis apa yang terjadi waktu itu. Kabut sudah turun, jarak pandang mulai terbatas. Bahkan, Bramasto, teman saya, bilang turun hujan pasir.
Saat bersamaan, ketika Mbah Maridjan belum sampai ke pintu masjid, sirine bahaya peringatan letusan pun meraung-raung. Saya terkesiap dan kepanikan mulai muncul. Namun, naluri jurnalis muncul, saya bilang ke Bram, kita harus bertahan lima menit untuk melihat perkembangan terjadi.
Bahkan saya berniat ikut jemaah shalat Magrib di masjid. Saya sempat lihat ada dua perempuan, keluar dari mobil, salah seorangnya berjilbab berlari kecil menyusul Mbah Maridjan ke arah masjid. Tapi karena Bram sudah panik, dia memaksa saya segera turun.
Rombongan PLN sudah meninggalkan halaman rumah, termasuk mobil tim SAR dan sepeda motor anggota SAR. Sementara itu, dua pendaki, Itong dan temannya, memindahkan sepeda motor, bergeser ke sebuah rumah di sebelah bawah rumah Mbah Mardijan.
Saya sempat mengikuti dia dan berniat untuk ikut berlindung di tempat persembunyian kedua orang itu sebab dia sempat cerita sebelumnya, waktu letusan 2006, dia menyelamatkan diri di tempat itu. Namun, sebelum kami parkir motor, Bram lagi-lagi memaksa turun secepatnya.
Wajah dia terlihat sangat ketakutan. Hujan abu tebal waktu itu sudah turun menderas. Itu bisa kami rasakan saat motor melaju, mata saya kemasukan debu dan sangat perih. Saya waktu itu mengenakan helm yang berkaca depan.
Semula, Bram berusaha memacu motor. Tapi saya ingatkan pelan saja karena jarak pandang terbatas dan berbahaya. Setelah itu, saya tidak pernah lagi menengok ke arah rumah Mbah Maridjan. Entah apa yang terjadi di sana. Raungan sirine menjadi tanda perpisahan kami dengan Si Mbah.

Categories:
Reaksi: 

0 Response for the "Sirine Meraung Tanda Perpisahan (Kisah Merapi)"